Think…Thank…

Me & My Family

Aku terlahir dari keluarga yang kukatakan cukup harmonis, meskipun sering mendapat masalah. Orangtuaku selalu berusaha untuk memberikan perlindungan untuk anak-anaknya – hal yang baru kusadari belakangan ini.Well, aku akan berusaha menggambarkan keluargaku satu per satu.

1. My Big Dad

Ayahku, sesosok orang yang sangat menjunjung prinsip demokrasi – hal yang barangkali sangat susah untuk didapat saat ini, bahkan dari ayahku sendiri. Beliau selalu berusaha untuk memberi kesempatan yang sama buat ank-anaknya untuk berkembang. Yah, menurutku, sih, meskipun Beliau selalu mengatakan hal tersebut di setiap nasihatnya, tetap saja Beliau sering memaksakan kehendaknya padaku. Contohnya, tentang penentuan masa depanku. Dulu, ayahku ngotot memaksaku masuk STAN. Alasannya, bisa ditebak, biaya kuliah tidak perlu dibayar lagi. Saat itu aku ngotot masuk ITB. Setelah hampir setahun berunding, dan dengan sekian liter air mata yang telah kutumpahkan akhirnya aku diijinkan memilih ITB. Itupun tetap saja ayahku memegang kendali dalam penentuan jurusanku. Beliau ingin aku masuk jurusan Informatika. Padahal aku sama sekali buta akan komputer. Buat weblog ini juga, aku perlu usaha keras binti keringat dingin – soalnya aku lambat mengetik. Ya, keringat dingin memikirkan biayanya, bo! Tapi, aku ingin menuruti keinginan ayahku kali ini. Bukankah segala sesuatu yang dilakukan dengan semangat dan disertai dengan doa akan membuahkan hasil (ceilee……., sejak kapan Sep?). Apalagi ayahku selalu mengingatkanku kegagalannya dalam berkarir akibat tidak mendengarkan nasihat orang tuanya. Duh, tambah mumet nih kepala.

Tapi, intinya aku sangat sayang pada ayahku. Sedari kecil aku memang lebih dekat dengan ayahku. Aku masih ingat kalau dulu kami sering tidur sekamar – waktu aku masih punya adik bayi. Kebiasaan ayahku yang masih kuingat sampai sekarang adalah mengangkat sebelah kakinya untuk memelukku. Bisa dibayangkan, nggak? Kebiasaan itu masih dilakukannya pada adik bungsuku.

Aku selalu rindu pada ayahku. Orang bilang aku ini ‘roha bapaon’ – sebuah istilah yang menggambarkan ketergantungan seorang anak akan ayahnya. Aku juga sering dibilang ‘anak papa’ oleh teman sekolahku karena ayahku datang sekedar untuk mengantar makan pagi bila sarapanku sangat sedikit. Aku nggak keberatan dengan sebutan itu. Aku bangga dong punya ayah yang perhatian, weeee…….

Tapi, kami juga sering terlibat pertengkaran. Dari situlah aku tahu kalau ayahku juga punya sisi kekanak-kanakan. Beliau memang sangat keras kepala sama seperti ibuku – yang sangat mengherankan buatku karena mereka bisa menikah. Kalau sudah begini aku juga akan beraksi sebagai anak keras kepala -habis, gabungan ayah dan ibuku yang keras kepala. Akhirnya, mereka geleng-geleng kepala melihat tindak-tandukku ini.

Walaupun kami sering digunjingkan orang di kampung karena kelakuan ayahku yang kurang baik di masa lalu, aku tetap saja menyayanginya. Hubungan tetangga dan persahabatan memang bisa diputuskan begitu saja tetapi hubungan darah tidak. Bagaimanapun juga, aku bangga dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Beliau juga manusia biasa sama seperti kita semua.

Ayah, aku rindu. Aku akan selalu berdoa untukmu. Yakinlah, akan ada hari yang indah suatu saat nanti. Di sana.Semoga Tuhan Yesus memberkatimu. Amin.

2. My Dear Mommy

Mother, how are you today? Semoga ibu baik-baik saja. Kali ini. aku akan bercerita tentang ibuku.

Ibuku adalah sesosok orang yang sangat lemah namun sangat perhatian. Beliau tidak akn membiarkan kami pergi ke sekolah tanpa sebelumnya meyakinkan dirinya kalau kami sudah makan. Beliau sangat meperhatikan kondisi tubuh kami. Ibuku sering khawatir karena kurusnya aku. Padahal Beliau sendiri sangat kurus. Kadang aku bosan mendengar nasehatnya,tetapi segera aku menyadari kalau itu manifestasi rasa sayangya padaku.

Ibuku adalah orang yang sangat plin-plan sehingga kami sering menertawakannya. Oh ya, menurutku ibuku adalah orang yang sangat modis. Seluruh bajuku, ibuku yang pilihkan karena aku sendiri malas berbelanja. Beliau juga menyukai beberapa penyanyi sementara aku sendiri jauh lebih suka lirik lagu dibanding penyanyinya.

Ibuku adalah orang yang sangat mudah terkena stres. Karena itulah, aku sama sekali tidak menyangka kalau Beliau mampu menyelamatkan keluarga kami dari kejatuhan – hal yang sampai sekarang belum berani aku ceritakan pada orang lain. Ternyata ibuku adalah orang yang mampu mengelola rasa stres menjadi kemampuan untuk mengubah hal yang hampir mustahil. Aku belajar satu hal yang sangat berharga darinya.

Dulu, kuakui aku tidak dekat dengannya. Namun, kini itu sudah berubah. Aku sekarang selalu mengingat kebaikannya terutama saat menyediakan makanan saat aku belajar di tengah malam dulu. Aku juga ingat saat aku mencium pipi Ibu sebelum pergi ke sekolah, ibu selalu berkata, “Tuhan Yesus memberkati”. Saat ini, aku sangat rindu mendengar itu langsung darinya.

Mak, aku rindu. Aku akan selalu berdoa buat pertemuan kita di kemudian hari. Semoga Tuhan Yesus memberkatimu. Amin.

1 Komentar »


Umpan RSS untuk komentar-komentar pada tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Tema: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.