Bandung, 29 Maret 2008
5.45 AM
@ Asrama
(Tugas Spiritual Leadership Training)
Public Speaking Experiences
Saya bertumbuh sebagai anak yang sangat pemalu. Di daerah asal saya, saya dikenal sebagai anak yang selalu diam, tidak pernah (mau) bicara di depan umum saking takutnya. Hal ini membuat kedua orang tua saya bingung karena ketiga adik saya justru terbiasa tampil di depan umum.
Sejak dulu, saya kurang suka dengan pelajaran yang menuntut tugas presentasi di depan kelas. Namun, seiring waktu, saya menyadari bahwa ketidakmampuan saya dalam berbicara di depan orang pastinya akan menghambat prestasi saya.
Menurut saya, berbicara di depan umum menuntut banyak perhatian. Misalnya, saya harus tahu siapa yang akan menjadi pendengar saya. Tahu di sini bukan sekedar ‘tahu’, tapi bahkan memahami kondisi psikis, fisik dan bahkan kejiwaan orang tersebut. Lebih jauh lagi, mungkin bahkan pola pikir, kebiasaan, atau motivasi harus dipahami oleh ‘pembicara’ tersebut.Hal ini saya simpulkan dari pengamatan saya bahwa berbicara tentang “berbicara di depan umum” sama sekali tidak berbicara tentang seusatu yang sudah ‘pakem’ atau teoretis. Orang yang bahkan sudah sangat terbiasa berbicara di depan umum pun bisa menampilkan pembahasan yang sangat ‘dangkal’ bila gagal menyelaraskan pembahasan dengan kondisi pendengar.
Poin kedua, pembicara tentunya harus paham apa yang akan dibahasnya. Dengan pemahaman yang mendalam – kalau perlu didukung dengan sumber terkait – akan sangat membantu pembicara untuk menjawab pertanyaan yang mungkin timbul. Poin ketiga, menurut saya, sekali lagi, menurut saya, ‘berbicara di depan umum’ berbicara tentang kondisi real-time (maaf, mengambil istilah elektro, hehe). Di sinilah, pembicara dituntut untuk stay creative. Dengan ini, pembicara akan siap menghadapi kondisi apapun yang mungkin terjadi. Keempat, pembicara haruslah menggunakan bahasa yang sesuai dan ‘mengena’ disesuaikan dengan audiens sehingga pembahasan tidak blurr alias ‘kabur’ atau malah disalahartikan. Jadi, jangan asal terdengar keren. Coba dilihat, kalau dipakai di tipe audiens yang satu, dimengerti, nggak? Dan yang, terakhir, setiap pembicara haruslah (menurut saya) menyimpulkan inti pembahasan yang dia hadirkan.
Seingat saya, pertama kalinya saya berbicara di depan umum – dengan kata lain saya menjadi fokus – adalah saat saya menjadi kakak PA (Penatalayanan Alkitab). Biasalah, awalnya saya bingung harus bagaimana, apa yang harus disampaikan. Saya sadar bahwa saya harus mengenal siapa adik-adik saya itu, lalu merancang pertemuan pertama yang hanya bertujuan untuk berkenalan. Setelah itu, saya tahu bagaimana pendekatan yang harus dilakukan dan metode yang bagaimana yang harus dipakai. Saat ini, saya secara tidak sadar sudah menerapkan yang namanya proses ‘tahu siapa yang akan menjadi pendengar kita’ (poin pertama).
Pengalaman kedua adalah saat saya menjadi MC buat PD (persekutuan doa) suatu kepengurusan. Awalnya, saya sering tergagap dalam berbicara. Lalu, karena gugupnya, sewaktu bernyanyi, suara saya bergetar. Tetapi, saya bersyukur tidak ada yang komplain dengan kegugupan saya tersebut. Namanya juga belajar, hehehehe.
Pengalaman ketiga segera berlanjut, yakni saat saya menjadi MC buat LPMI. Saya membawakan tema PI (Pekabaran Injil). Ya ampun, padahal saya sama sekali belum pernah PI pribadi (kalau menjurus, sih sering, hehehe). Tapi, dengan memahami tujuan tema saat itu, saya tidak perlu gugup lagi dalam menyampaikan sedikit pembahasan. Yang penting, saya harus tahu apa yang harus saya sampaikan. Saya sampaikan saja apa yang menjadi kendala utama orang Kristen dalam ber-PI dan apa penyebabnya. Pada kondisi ini, saya sudah melewati tahap yang namanya ‘menguasai pokok pembahasan’ (poin kedua)
Saya juga menyadari bahwa untuk tiap fase ‘berbicara di depan umum’ yang bahkan memiliki audiensi yang sama, situasi, kondisi, dan tekanannya pasti berbeda. Dengan setiap karakteristik yang berbeda itu, saya juga melakukan pendekatan yang berbeda. Dengan ini, saya sudah menunjukkan bahwa saya kreatif (poin ketiga), hehehe (gak maksa, kan? J).
Dari beragam pengalaman berbicara di depan umum yang saya lakukan, saya punya pengalaman yang sangat menarik. Suatu kali, dalam sebuah rapat di suatu organisasi, katakanlah xxxx, saya menyampaikan sebuah solusi yang menurut saya sangat applicable dan sangat ‘mengena’ untuk masalah itu. Namun, apa dikata, jangankan diterima, didengarpun tidak (oleh ketua). Karena itu, akhirnya saya cenderung diam di rapat tersebut. Tahu-tahu, keputusan hasil rapat hari itu sama persis dengan ide saya sebelumnya dan ide itu terlontar dari seorang yang lain, sebut saja P, 15 menit setelah saya menyampaikannya. Saya pun mulai merutuk dalam hati. Bagaimanapun, saya sudah mengerahkan keberanian dan pikiran untuk itu, namun pengakuan justru berada pada orang lain. Karena tidak mau menerima hal itu, saya mencoba menganalisis masalahnya. Saya tidak mau menerima alasan bahwa keputusan diterima atau ditolaknya suatu pendapat berkolerasi dengan perasaan pribadi orang tersebut terhadap si pemberi ide (karena waktu itu, dia suka dengan si P). Selain itu, saya juga tidak meragukan kapasitas ketua untuk memimpin kami dalam rapat. Namun, akhirnya, saya menemukan jawaban yang menarik yang membekas dalam hati saya hingga saat ini. Saya harus menerima kenyataan bahwa saya melakukan pendekatan yang salah dalam penyampaian gagasan, yakni berkesan ‘sombong’ dan ‘sok tahu’. Sementara si P menyampaikan idenya dengan ‘lemah lembut’ dan rendah hati. Wow, dengan ide yang sama, namun dengan penyampaian yang berbeda, hasilnya bisa berbeda, hehehe. Pelajaran yang sangat baik, pikirku. Sejak saat itu, saya selalu berusaha untuk meyampaikannya dengan bahasa yang tepat dan cara yang tepat (poin keempat).
Kesempatan untuk berbicara di depan umum berhubungan dengan kesempatan untuk belajar lebih lagi. Dengan memupuk keberanian untuk belajar, maka kemampuan untuk berbicara di depan umum akan semakin terasah. Semakin pisau diasah, semakin tajam, bukan? Dan jangan lupa untuk menyampaikan inti pembahasan (poin kelima) agar hasilnya terfokus, right?
(Septebrina Situmroang)
(For My Master on high)