Think…Thank…

Desember 8, 2007

Musik Dangdutku, Musik Dangdutmu Juga

Filed under: Curhat,Family,Think-Thank — Septebrina Situmorang @ 5:18 am

Tadi pagi, sewaktu dalam perjalanan menuju kampus, aku mendengar alunan musik dangdut. Uh, lagi-lagi. Apa sih enaknya mendengar musik dangdut, pikirku.

Tiba-tiba, aku teringat dengan kejadian semasa aku masih bersekolah di Siantar. Saat itu, adikku yang duduk di kelas 1 SMA (sementara aku duduk di kelas 3 SMA), mulai memilih saluran radio dangdut. Alhasil, aku marah-marah. Hari gini, musik dangdut kok didengar, pikirku.

Trus, adikku balik marah-marah. Menurutnya, musik dangdut tuh enak didengar di pagi hari, saat aktivitas dimulai. Jadi, tidak ada yang salah dengan musik dangdut. Toh, menurutnya, dia suka hampur semua jenis lagu asal sesuai dengan situasi. Lagipula, saat dia mendengar suatu musik yang kurang dia suka, dia gak marah-marah (sepertiku), kok. Aku terkesiap. Ternyata, aku yang selama ini selalu mengagung-agungkan kemampuan bertoleransi-ku yang hebat bukanlah siapa-siapa. Nyatanya, aku bahkan gak bisa menerima musik dangdut.

Kembali aku teringat semasa kecilku yang memang sangat suka dengan musik dangdut. Yah, tau sendirilah, kalau musik dangdut dulu memang masih menjadi musik milik rakyat. Di mana-mana yang terdengar, ya musik dangdut. Stasiun TV hampir selalu menyajikan musik dangdut di samping jenis pop yang memang lumayan digandrungi semasa itu.

Kalau dipikir-pikir, penyebab keenggananku mendengarkan musik dangdut, tak terlepas dengan keadaan musik dangdut itu sekarang. Mungkin, aku memang tergolong konservatif atau apalah. Yang pasti, aku kurang suka dengan lirik beberapa (ingat loh, beberapa) lagu dangdut yang sangat erotis dan tidak pada tempatnya. Bayangkan aja, musik dangdut itu milik rakyat, toh. Tak heran, anak-anak kecil -yang mungkin tidak tahu arti lagu yang dinyanyikan itu baik apa nggak- ikut-ikutan hafal lagu itu. Penyebab lain, mungkin karena beberapa (kutandai lagi, beberapa) penyanyi dangdut yang menari dengan gerakan yang sangat erotis. Yah, masalah erotis memang subjektif. Tapi, inilah pendapatku sendiri. Mbok ya, kalau menari kayak itu lihat-lihat kondisi, dong.

Kembali ke masalah yang tadi. Mungkin, aku harus lebih merenungkan alur pemikiranku. Toh, apa yang salah dengan musik dangdut. Yang salah itu, toh cuma masalah media dan penyampaian saja. Jadi, musik dangdut tidak layak menjadi kambing hitam atas segala kekesalanku.

Kalau dipikir-pikir, musik dangdut itu memang cukup menenangkan, loh.

Satu kosong buat adikku.

1 Komentar »

  1. yang pastinya dangdut no 1 loch hehhe…. saya salasatu fans berat dangdut loch hikhik.. lam kenal yawh..

    Komentar oleh fansrhoma — Juni 7, 2008 @ 7:27 pm | Balas


RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini. URI Lacak Balik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Theme: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.