Think…Thank…

Desember 21, 2006

Satuan Internasional

Filed under: Kuliah — Septebrina Situmorang @ 5:48 am

     Suatu hari ada seorang wisatawan yang menanyakan berapa mil jarak dari suatu tempat ke kota yang hendak ia tuju. Namun, sang guide menjawab dalam satuan kilometer. Yang tinggal hanyalah rasa bingung karena turis itu tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dan sang pemandu merasa tidak puas karena tak dapat memuaskannya.

     Itu hanyalah sebuah gambaran akan membingungkannya dunia ini bila saja tidak ada satuan konversi yang berlaku secara universal. Coba bayangkan ada yang bertanya pada Anda tentang suhu daerah itu dalam satuan Fahrenheit seangkan yang Anda ketahui cuma satuan Celcius.  Atau Anda ditanya panjang benda dalam satuan inci padahal Anda hanya mengerti cm, m, dan yang berakhiran m lainnya. Dan masih banyak andai dan padahal   lainnya. Bayangkan betapa mumetnya otak kita memikirkannya.

     Untunglah kita tak perlu berbingung-ria karena itu. Para pendahulu kita telah lama menyadari pentingnya satuan konversi itu. Maka mereka mengadakan konvensi untuk memutuskan satuan-satuan yang diambil untuk mewakili semua satuan yang ada. Maka, setelah melalui pemikiran dan pertimbangan yang menyulitkan didapatlah suatu keputusan yang dinamai SI System of Units atau satuan internasional.

     Inilah mereka-mereka itu:

1.  Panjang diwakili oleh meter (m)

2.  Massa diwakili oleh kilogram (kg)

3.  Waktu diwakili oleh sekon (s)

4. Arus listrik diwakili oleh Ampere (A)

5.  Temperatur diwakili oleh Kelvin (K)

6.  Intensitas cahaya diwakili oleh Kandela (cd)

7.  Jumlah atom diwakili oleh mol.

     Jadi, itulah ukuran standar untuk perhitungan dan pengukuran. Jadi, jangan bingung lagi bila menjumpai kata-kata seperti inci, mil, Fahrenheit, atau bahkan satuan lain yang berbeda-beda untuk tiap bangsa. Konversikan saja ke satuan internasionalnya (ada di buku, kok). Mudah, bukan?

Numbers

Filed under: Kuliah — Septebrina Situmorang @ 5:16 am

1.   Penulisan Nomor

       Angka adalah unsur yang sangat penting buat seorang engineer. Namun, banyak masalah yang timbul terutama mengenai standar penulisan desimal.

   a. Tanda koma di Amerika menunjukkan ribuan dan tanda titik menunjukkan pecahan desimal. Hal yang berkebalikan terjadi di Eropa pada umumnya.

        Contoh: angka seribu satu koma satu

                        1,001.1  (AS) 

                        1.001,1  (Eropa pada umumnya dan juga di Asia)

     Untuk menghilangkan rasa bingung, yang diterima seebagai standar baku adalah penulisan menurut AS.

   b.  Untuk menunjukkan tanda desimal di antara -1 dan 1 maka angka 0 harus dituliskan.

         Contoh:  0.576 (nol  koma lima tujuh enam)

2.   Kesalahan Perhitungan

       Dalam melakukan perhitungan, para engineer sering melakukan kesalahan yang terutama disebabkan:

   a.  Kesalahan kalibrasi, artinya penunjuk awal standar perhitungan yang tidak tepat nol  sehingga hasil perhitungan bertambah kecil atau besar.

   b.  Kesalahan paralaks, artinya adanya unsur kesalahan optis atau pandangan mata dalam menentukan hasil perhitungan. Ini merupakan kesalahan teknis yang sering terjadi.

   c.  Kesalahan perhitungan hasil perhitungan yang berkisar dari ketidaktelitian perhitungan  sampai faktor pembulatan  hasil. 

         Contoh:  di mistar (yang umumnya nilai skala terkecilnya 0.1 cm) yang menunjukkan angka 7.58 sulit untuk dideteksi oleh mata. Kita hanya dapat memperkirakan bahwa hasilnya berkisar antara 7.5 dan 7.6 cm. Maka ketidakpastiannya adalah setengah dari NST tadi ditambah antara hasil perhitungan, yakni (7.55+0.05) cm.

         Dari situ bisa didapat persen ketidakpastian dan juga persen kesalahan. Semakin kecil persennya maka semakin besar keakuratannya dan sebaliknya.

3.   Angka Penting

       Merupakan angka yang akurat kebenarannya  dengan angka akhir umumnya dianggap mengandung kesalahan.

       Contoh:  0.0052  (2 angka penting)

                        52  (2 angka penting)

                        520  (2 atau 3 angka penting karena angka 0 bisa mengandung kesalahan pengukuran)

        Dalam pembuatan laporan, para engineer terkadang membulatkan angka hasil pengukuran sesuai dengan jumlah angka penting yang diperlukan. 

        Contoh: bila diperlukan 3 angka penting

                        5,738.365 menjadi 5,740.000

                        0.257543 menjadi 0.258

                        0.257479 menjadi 0.257

        Yang harus diperhatikan : pembulatan dilakukan hanya pada akhir perhitungan, artinya tidak dilakukan di tiap tahap perhitungan untuk mengurangi tingkat kesalahan yang lebih besar. Dengan kata lain, tingkat keakuratannya lebih terjamin.

      

                          

Tema: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.