Think…Thank…

April 16, 2008

Sepeninggal Oppung…

Filed under: Curhat,Me & My Family — Septebrina Situmorang @ 12:30 pm

Bandung, INA

10.45 AM

@ Lab. IF Dasar I ITB

Hari ini aku merasa sangat sedih. Oppungku (nenek) meninggal sudah karena penyakit ginjal. Masih kuingat, aku datang ke Bandung untuk berkuliah dengan membawa harapan membahagiakan keluargaku, termasuk nenekku yang sangat banyak berkorban untuk keluarga kami, baik materi, moril, dan perasaan.

Masih kuingat, kira-kira sebulan yang lalu, aku menelepon Oppungku yang sedang sakit. Aku berjanji pulang ke Siantar bulan Juni ini. Tak lupa, aku mengingatkan nenek untuk menjaga kesehatan dan mendoakan aku. Aku janji pulang ke kampung untuk menjenguk Oppung kembali. Tapi, janji itu tinggallah janji dan waktu takkan kembali sama. Oppungku meninggal sudah.

Masih kuingat saat sehari sebelum berangkat ke Bandung, aku pergi ke kampung untuk pamit pada Oppung. Masih kuingat senyum pasrah Oppung yang akan melepasku pergi. Cucu sulungnya akan pergi beribu kilometer jauhnya darinya.

Masih kuingat pelukannya di saat aku tidur, senyumnya di saat aku nakal maupun sedih, perhatiannya di saat aku sakit, kepeduliaannya terhadap tumbuh kembangku, kebanggaannya atas tiap prestasi yang kutorehkan, simpatinya atas tiap kegagalanku, nasihatnya yang sangat lembut. Masih kuingat itu semua.

Di log hatiku tertulis: “Telah berakhir kehidupan seorang anak yang sangat menghormati orangtuanya, seorang saudara yang sangat menghargai saudara-saudaranya, seorang istri yang sepadan buat suaminya, seorang ibu yang sangat peduli akan keluarganya, seorang oppung (nenek) yang sangat memperhatikan perkembangan, mengasihi dan membanggakan cucu-cucunya, seorang teman yang selalu berada dalam kondisi apapun. Tapi yang pasti, semua kenangan itu takkan berakhir di batu nisan. Namun, akan terus berakar, bertumbuh dan senantiasa dipelihara, disiram, dipupuk oleh orang-orang yang mengenangnya. Semua pengorbanannya akan dikenang hingga akhir zaman oleh orang-orang yang mengenalnya. Semua perbuatan, kebaikan, kesetiaannya akan selalu dikenang dan diteladani. Hidupnya di dunia ini takkan sia-sia.”

Teruntuk Oppung….

Terima kasih untuk setiap

Kebaikan

Kesetian

Kasih sayang

Damai

Ketenangan

Perjuangan

Semangat

Nasihat

Kan kuingat semuanya…

Yang kau berikan untukku

Untuk ayah mamaku

Untuk adik-adikku

Untuk keluarga besar kita

Perjuanganmu di bumi memang sudah berakhir

Sudah waktumu untuk beristirahat dengan tenang

Namun, kenangan yang kau tinggalkan akan tetap hidup

Di log hati kami masing-masing

Maaf…

Aku tidak menemanimu di kala kau sakit

Maaf…

Aku belum bisa menunjukkan keberhasilanku yang doakan

Maaf…

Aku belum sempat menemuimu

Namun…

Aku tahu bahwa kebanggaanmu atasku

Sudah mampu menjawab semuanya…

Aku akan tetap berjuang Oppungku

Untuk bagianmu juga

Untuk keluarga besar kita

Untuk setiap teladan yang kau berikan buatku

Terima kasih sudah mau menjadi Oppungku yang luar biasa

Terima kasih sudah membesarkanku

Terima kasih memahami kenakalanku di masa tumbuh kembangku

Terima kasih memahami cara mendidikku

Terima kasih untuk semuanya…

Aku menyayangimu Oppungku…

Pernahkah aku mengatakannya secara langsung?

Pergilah Kasih….

Kita ‘kan jumpa

Walau tidak di sini….

Nanti di Surga….

Selamat jalan oppungku tersayang

Tunggu sampai kita bertemu di surga

Bersama Bapa di Surga…

Kita semua akan berkumpul kembali…

Amin (Pasti)….

By: Septebrina Situmorang

(My Master on High)

Maret 31, 2008

When I say that I love you…

Filed under: Christianity,Just 4 my Master on high — Septebrina Situmorang @ 12:15 pm

Bandung, 29 maret 2008

7.30 AM

@ Asrama

Beberapa hari ini, ada sebuah lagu yang sangat be-rhema dalam hidup saya. Saya rindu membagikan lagu itu di sini. Saya lupa siapa yang mengarang lagu ini. Kalau ada yang tahu, tolong beri tahu saya, ya. Berilah perhatian sejenak dan silahkan untuk menikmati setiap liriknya.

When I say that I love you

You feel that you’re lonely

It doesn’t mean that you’re alone

You feel that nobody wants you

It doesn’t mean that no one care about you

Listen to the word I say

And I will always by your side

You mean everything to Me

And I will never leave you

‘cause I love you so……..

Reff:

When I say that I love you

It means that give the best for you

When I say that I love you

I will give everything for you

No more fear about the future

And blame for the past

I’ll give everything

When I say that I love you……

You think that you’re nothing

Before me you’re something beautiful

You think you can’t do anything

But you can do a lot of things with Me

Listen to the word I say

And I will always by your side

You mean everything to Me

and I will never leave you

‘cause I love you so……..

Lagu ini bercerita tentang ‘Seseorang’ yang sangat memperhatikan kita. Lihat bagian intro, ada kata-kata ‘you feel’ dan ‘you think’. Yupz, dalam hidup, kita memang sangat dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan kita. Padahal itu belum tentu benar. Right? Kita, sebagai manusia cenderung bersikap egois, self-centered. Kita sering dicecoki dengan pikiran dan perasaan kita sendiri. Kita cenderung menganggap apa yang kita rasakan tentang diri kita adalah ‘kebenaran’. Contoh kasus, Saya sering merasa sendirian dan tak punya teman (hingga saat ini, terkadang). Namun, saya akhirnya tahu (sewaktu Abang saya wisuda Maret lalu) kalau orang tua saya selalu membawa saya dalam tiap doanya. Wow, usia segini, baru sadar? (Whatta!!!). Saya sadar bahwa saya tidak berjuang sendirian di Bandung ini. Saya punya keluarga yang senantiasa tahu apa yang saya butuhkan. Dan yang penting, saya sadar bahwa merasa sendirian dan tidak dipedulikan itu sama sekali gak penting.

Yupz, lagu ini adalah pernyataan cinta dari Allah kita. Siapa sih kita, sampai kita dicinta-Nya? Siap sih kita, sampai-sampai Dia mau ngebantuin kita buat ngehadepin hidup ini? Siapa sih kita, sampai Dia mau capek-capek ngebantuin kita buat ngehilangin perasaan negatif kita?

So, Guyz and Galz, stop thinking and feeling desperately. No fear,no blame, ‘coz of Him. Ketahuilah, bahwa saat engkau merasa sendirian, Dia tetap ada memandang kita, menanti kita, menunggu kita mau mencari Dia. Ketahuilah, bahwa tangan-Nya tetap terulur untuk kita, bahkan saat tidak ada yang peduli. Bahkan, di saat keluargamu tidak mampu. Ingat, tangan-Nya tidka kurang panjang untuk menyalamatkan.

Ketika Dia mengatakan “I love you (ganti dengan namamu)”, saat itulah, semua beban-Mu sebenarnya sudah lepas. Dengan pernyataan cinta dariNya untukmu, tidak akan ada yang memutuskan hubungan-Mu selamanya dengan-Nya. Dia bahkan berjanji bakalan terus bersama kita.

Jadi, maukah Engkau menerima-Nya?

(For My Master on high)

Kembalilah ke ‘Titik Nol’

Filed under: Christianity,Just 4 my Master on high,Think-Thank — Septebrina Situmorang @ 11:49 am

Apakah kau merasa beban hidupmu teramat besar?

Apakah kau sedang merasa berada dalam persimpangan jalan?

Apa Tuhan masih relevan saat ini?

Engkau tidak sendirian…

Jutaan orang pernah merasakan hal itu

Mungkin dalam suatu masa hidupnya, semua manusia pernah mempertanyakan hal ini.

Adakah tempat perhentian sejenak dari segala masalah itu?

Jawabannya, ‘titik nol’.

Berteduhlah di ‘titik nol’ itu.

Temukan apa yang menjadi penantianmu selama puluhan tahun hidupmu di dunia ini.

************************************************************************

Dunia telah berkembang begitu pesat. Apa yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, telah terjadi saat ini. Sesuatu yang dulu dipikir takkan bisa dibuat, nyatanya kini telah ada. Dan saat ini, usaha-usaha itu masih berlanjut. Kalau begini, apakah ini berarti bahwa manusia mampu berbuat apa saja untuk mengatur seluruh dunia? Bahkan tanpa Allah sekalipun?

Seiring perkembangan itu, kehidupan terasa semakin berat. Krisis terjadi di mana-mana. Waktu terasa semakin cepat berjalan. Kita semakin disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang kita buat untuk memenuhi kebutuhan kita. Kita menjadi pribadi yang tidak peduli lagi dengan sekeliling kita. Seluruh hidup kita bagai dikejar-kejar oleh waktu dan keputusasaan.

Yah, Sobat, jika kau merasa beban hidupmu teramat besar, ada satu jawaban untukmu – yang kuyakin merupakan jawaban terbaik yang pernah kuterima selama hidupku yang singkat ini. Yakni, Allah Bapa. Dialah sumber segala hikmat dalam hidup kita, sumber penyelesaian segala masalah. Di tangannya ada segala kunci untuk penyelesaian masalah-masalah manusia. Dan kuasa-Nya tidaklah terbatas untuk suatu masa/zaman. Kuasa-Nya bahkan masih berlaku hingga saat ini, sama besar kuasanya dengan saat Allah masih bisa bercakap-cakap secara langsung dengan umat manusia.

Dia-lah ‘titik nol’ itu. Dialah tempat perhentian kita. ‘Tempat’ di mana kita bisa beristirahat dari sibuknya dunia meski sejenak, melepaskan segala beban. Saat kita merasa tidak mampu menghadapi semua permasalahan dalam hidup kita, kita hanya butuh. ‘Seseorang’ yang bersedia untuk selalu mendampingi kita. ‘Seseorang yang selalu siap mendengarkan keluh kesah kita. ‘Seseorang’ yang selalu memperhatikan perkembangan diri kita. ‘Seseorang’ yang mengenal diri kita jauh lebih baik dibandingkan kita sendiri. ‘Pribadi’ yang tahu apa yang terbaik buat hidup kita.

Sekarang, pertanyaannya adalah maukah kita menerima segala kebaikan-Nya? Maukah kita mengakui bahwa kita tidak mampu hidup sendiri tanpa ada bimbingan dari-Nya?

Berdoalah sekarang juga. Tumpahkan segala beban hidupmu selama ini dalam doamu. Jangan takut, sebab Ia menunggu kita.merendahkan diri untuk berdoa. Ia menunggu kita untuk mengakui bahwa kita tidak mampu untuk hidup sendiri. Ia menunggu kita untuk melibatkan-Nya dalam segala aspek hidup kita.

Temukan jawaban-Nya dalam doamu. Ia pasti menjawab. Mintalah bimbingan-Nya atas hidupmu. Libatkan Dia dalam segala aspek hidupmu. Kembalilah ke ‘titik nol’ dan rasakan indahnya hidup bersama-sama Dia. Sekarang masih belum terlambat

Berdoalah, Sobat…..

Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu;

Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku;

Apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku.

(Yeremia 29:12-14a)

Public Speaking Experiences…

Filed under: Curhat,Just 4 my Master on high,Think-Thank — Septebrina Situmorang @ 11:46 am

Bandung, 29 Maret 2008

5.45 AM

@ Asrama

(Tugas Spiritual Leadership Training)

Public Speaking Experiences

Saya bertumbuh sebagai anak yang sangat pemalu. Di daerah asal saya, saya dikenal sebagai anak yang selalu diam, tidak pernah (mau) bicara di depan umum saking takutnya. Hal ini membuat kedua orang tua saya bingung karena ketiga adik saya justru terbiasa tampil di depan umum.

Sejak dulu, saya kurang suka dengan pelajaran yang menuntut tugas presentasi di depan kelas. Namun, seiring waktu, saya menyadari bahwa ketidakmampuan saya dalam berbicara di depan orang pastinya akan menghambat prestasi saya.

Menurut saya, berbicara di depan umum menuntut banyak perhatian. Misalnya, saya harus tahu siapa yang akan menjadi pendengar saya. Tahu di sini bukan sekedar ‘tahu’, tapi bahkan memahami kondisi psikis, fisik dan bahkan kejiwaan orang tersebut. Lebih jauh lagi, mungkin bahkan pola pikir, kebiasaan, atau motivasi harus dipahami oleh ‘pembicara’ tersebut.Hal ini saya simpulkan dari pengamatan saya bahwa berbicara tentang “berbicara di depan umum” sama sekali tidak berbicara tentang seusatu yang sudah ‘pakem’ atau teoretis. Orang yang bahkan sudah sangat terbiasa berbicara di depan umum pun bisa menampilkan pembahasan yang sangat ‘dangkal’ bila gagal menyelaraskan pembahasan dengan kondisi pendengar.

Poin kedua, pembicara tentunya harus paham apa yang akan dibahasnya. Dengan pemahaman yang mendalam – kalau perlu didukung dengan sumber terkait – akan sangat membantu pembicara untuk menjawab pertanyaan yang mungkin timbul. Poin ketiga, menurut saya, sekali lagi, menurut saya, ‘berbicara di depan umum’ berbicara tentang kondisi real-time (maaf, mengambil istilah elektro, hehe). Di sinilah, pembicara dituntut untuk stay creative. Dengan ini, pembicara akan siap menghadapi kondisi apapun yang mungkin terjadi. Keempat, pembicara haruslah menggunakan bahasa yang sesuai dan ‘mengena’ disesuaikan dengan audiens sehingga pembahasan tidak blurr alias ‘kabur’ atau malah disalahartikan. Jadi, jangan asal terdengar keren. Coba dilihat, kalau dipakai di tipe audiens yang satu, dimengerti, nggak? Dan yang, terakhir, setiap pembicara haruslah (menurut saya) menyimpulkan inti pembahasan yang dia hadirkan.

Seingat saya, pertama kalinya saya berbicara di depan umum – dengan kata lain saya menjadi fokus – adalah saat saya menjadi kakak PA (Penatalayanan Alkitab). Biasalah, awalnya saya bingung harus bagaimana, apa yang harus disampaikan. Saya sadar bahwa saya harus mengenal siapa adik-adik saya itu, lalu merancang pertemuan pertama yang hanya bertujuan untuk berkenalan. Setelah itu, saya tahu bagaimana pendekatan yang harus dilakukan dan metode yang bagaimana yang harus dipakai. Saat ini, saya secara tidak sadar sudah menerapkan yang namanya proses ‘tahu siapa yang akan menjadi pendengar kita’ (poin pertama).

Pengalaman kedua adalah saat saya menjadi MC buat PD (persekutuan doa) suatu kepengurusan. Awalnya, saya sering tergagap dalam berbicara. Lalu, karena gugupnya, sewaktu bernyanyi, suara saya bergetar. Tetapi, saya bersyukur tidak ada yang komplain dengan kegugupan saya tersebut. Namanya juga belajar, hehehehe.

Pengalaman ketiga segera berlanjut, yakni saat saya menjadi MC buat LPMI. Saya membawakan tema PI (Pekabaran Injil). Ya ampun, padahal saya sama sekali belum pernah PI pribadi (kalau menjurus, sih sering, hehehe). Tapi, dengan memahami tujuan tema saat itu, saya tidak perlu gugup lagi dalam menyampaikan sedikit pembahasan. Yang penting, saya harus tahu apa yang harus saya sampaikan. Saya sampaikan saja apa yang menjadi kendala utama orang Kristen dalam ber-PI dan apa penyebabnya. Pada kondisi ini, saya sudah melewati tahap yang namanya ‘menguasai pokok pembahasan’ (poin kedua)

Saya juga menyadari bahwa untuk tiap fase ‘berbicara di depan umum’ yang bahkan memiliki audiensi yang sama, situasi, kondisi, dan tekanannya pasti berbeda. Dengan setiap karakteristik yang berbeda itu, saya juga melakukan pendekatan yang berbeda. Dengan ini, saya sudah menunjukkan bahwa saya kreatif (poin ketiga), hehehe (gak maksa, kan? J).

Dari beragam pengalaman berbicara di depan umum yang saya lakukan, saya punya pengalaman yang sangat menarik. Suatu kali, dalam sebuah rapat di suatu organisasi, katakanlah xxxx, saya menyampaikan sebuah solusi yang menurut saya sangat applicable dan sangat ‘mengena’ untuk masalah itu. Namun, apa dikata, jangankan diterima, didengarpun tidak (oleh ketua). Karena itu, akhirnya saya cenderung diam di rapat tersebut. Tahu-tahu, keputusan hasil rapat hari itu sama persis dengan ide saya sebelumnya dan ide itu terlontar dari seorang yang lain, sebut saja P, 15 menit setelah saya menyampaikannya. Saya pun mulai merutuk dalam hati. Bagaimanapun, saya sudah mengerahkan keberanian dan pikiran untuk itu, namun pengakuan justru berada pada orang lain. Karena tidak mau menerima hal itu, saya mencoba menganalisis masalahnya. Saya tidak mau menerima alasan bahwa keputusan diterima atau ditolaknya suatu pendapat berkolerasi dengan perasaan pribadi orang tersebut terhadap si pemberi ide (karena waktu itu, dia suka dengan si P). Selain itu, saya juga tidak meragukan kapasitas ketua untuk memimpin kami dalam rapat. Namun, akhirnya, saya menemukan jawaban yang menarik yang membekas dalam hati saya hingga saat ini. Saya harus menerima kenyataan bahwa saya melakukan pendekatan yang salah dalam penyampaian gagasan, yakni berkesan ‘sombong’ dan ‘sok tahu’. Sementara si P menyampaikan idenya dengan ‘lemah lembut’ dan rendah hati. Wow, dengan ide yang sama, namun dengan penyampaian yang berbeda, hasilnya bisa berbeda, hehehe. Pelajaran yang sangat baik, pikirku. Sejak saat itu, saya selalu berusaha untuk meyampaikannya dengan bahasa yang tepat dan cara yang tepat (poin keempat).

Kesempatan untuk berbicara di depan umum berhubungan dengan kesempatan untuk belajar lebih lagi. Dengan memupuk keberanian untuk belajar, maka kemampuan untuk berbicara di depan umum akan semakin terasah. Semakin pisau diasah, semakin tajam, bukan? Dan jangan lupa untuk menyampaikan inti pembahasan (poin kelima) agar hasilnya terfokus, right?

(Septebrina Situmroang)

(For My Master on high)

Desember 8, 2007

Sehabis Ujian MaTek…

Filed under: Curhat,Kuliah — Septebrina Situmorang @ 5:18 am

Gue baru aja selelesai ujian Matematika Teknik. Seperti biasa, segala penyesalan tumpah

ruah. Ada yang salah hitung, lah. Ada yang sempat-sempatnya, lupa rumus, lah. Akhirnya,

usaha mati-matian ingat rumur dengan defenisinya. Pokoknya, kacau. Kenapa bisa kayak gini,

sih?
Klo mau nyalahin genetika, eh salah kepribadian, gue bisa aja ngeles bilang gue gak

teliti, ato kurang gizi (ini mah, kurang ajar, wong ortu gue selalu kirim uang yang udah

pasti cukup buat gue). Tapi, mbok ya, masa’ sih, gue salah hitung terus. Kapan benarnya?

Trus, masa’ kurang gizi, lha tadi pagi gue jelas-jelas minum susu. Huah…. Gue salah di

mana?
Klo dipikir-pikir lagi (kayaknya, gue emang suka mikir, nih), kesalahan gue emang di

kurang latihan. Emang sih, gue belajarnya kebut semalam (alias tadi malam baru berlatih

soal). Sejak 2 minggu lalu, gue cuman berkutat di teori. Ya ampun, buat apa gue belajar tuh

teori (maksud gue, buat apa gue mendalami penurunan rumus, ato apalah itu, yang sebenarnya

tidak menjadi tujuan perkuliahan di elektro). Lha gue kan bukan anak Matematik. Dosen gue

aja bilang supaya kami terima tuh rumus-rumus, karena pembuktiannya diserahin sama anak

Matematika. Klo gak gitu, apa guna ahli matematik? Mau belajar elektro? Ya, nggak lah….
Eh, kembali ke masalah tadi. Penyakit kurang teliti gue emang udah terlanjur parah. Ya,

gue pikir solusinya, ya cumam banyakl berlatih, bukan cuman paham konsep. Ya ampun

(lagi-lagi), kok gue baru ngerti hal ini pas semester 3. Tapi, ya nggak papa lah. Wong,

manusia seiring bertambahnya usia, pasti akan terus belajar. Ini bukan bela diri, tapi ya

emang kenyataannya gitu. Kayak kata Ayah gue. Hidup kita itu seperti bola yang

menggelinding. Ada kalanya kita di atas angin, tapi ada kalanya kita itu di bawah, Tapi, pas

di bawah itu kita bisa belajar melihat sekeliling kita. Karena pas di situ, kita bakalan

‘dipaksa’ untuk mengakui kehebatan yang lain. Yah, sama kayak gue. Gue salut sama

teman-teman gue yang telitinya minta ampun. Tapi, gue pasti belajar lebih. Gue bakalan

berlatih terus, gak bakalan menyerah. Yupz, gue gak bakalan nyerah. Hidup ini indah. Gue

juga bersyukur masuih dikasih Tuhan buat kuliah dengan kondisi keuangan yang sebenarnya

sangat tidak memungkinkan. So, gue emang gak punya pilihan lain selain belajar keras.

Sebagai ucapan syukur buat Tuhan. Masih ada UAS bauat yang mau nambah nilai. Masih ada

ujian-ujian lain yang menanti. Masih ada banyak kesempatan. Dan kesempatan ini gue pake buat

nunjukin klo Septebrina itu bisa teliti juga. Target gue belom tercapai. So, bagian gue yang

akan terus berlatih n berdoa. Hmmm…

Musik Dangdutku, Musik Dangdutmu Juga

Filed under: Curhat,Family,Think-Thank — Septebrina Situmorang @ 5:18 am

Tadi pagi, sewaktu dalam perjalanan menuju kampus, aku mendengar alunan musik dangdut. Uh, lagi-lagi. Apa sih enaknya mendengar musik dangdut, pikirku.

Tiba-tiba, aku teringat dengan kejadian semasa aku masih bersekolah di Siantar. Saat itu, adikku yang duduk di kelas 1 SMA (sementara aku duduk di kelas 3 SMA), mulai memilih saluran radio dangdut. Alhasil, aku marah-marah. Hari gini, musik dangdut kok didengar, pikirku.

Trus, adikku balik marah-marah. Menurutnya, musik dangdut tuh enak didengar di pagi hari, saat aktivitas dimulai. Jadi, tidak ada yang salah dengan musik dangdut. Toh, menurutnya, dia suka hampur semua jenis lagu asal sesuai dengan situasi. Lagipula, saat dia mendengar suatu musik yang kurang dia suka, dia gak marah-marah (sepertiku), kok. Aku terkesiap. Ternyata, aku yang selama ini selalu mengagung-agungkan kemampuan bertoleransi-ku yang hebat bukanlah siapa-siapa. Nyatanya, aku bahkan gak bisa menerima musik dangdut.

Kembali aku teringat semasa kecilku yang memang sangat suka dengan musik dangdut. Yah, tau sendirilah, kalau musik dangdut dulu memang masih menjadi musik milik rakyat. Di mana-mana yang terdengar, ya musik dangdut. Stasiun TV hampir selalu menyajikan musik dangdut di samping jenis pop yang memang lumayan digandrungi semasa itu.

Kalau dipikir-pikir, penyebab keenggananku mendengarkan musik dangdut, tak terlepas dengan keadaan musik dangdut itu sekarang. Mungkin, aku memang tergolong konservatif atau apalah. Yang pasti, aku kurang suka dengan lirik beberapa (ingat loh, beberapa) lagu dangdut yang sangat erotis dan tidak pada tempatnya. Bayangkan aja, musik dangdut itu milik rakyat, toh. Tak heran, anak-anak kecil -yang mungkin tidak tahu arti lagu yang dinyanyikan itu baik apa nggak- ikut-ikutan hafal lagu itu. Penyebab lain, mungkin karena beberapa (kutandai lagi, beberapa) penyanyi dangdut yang menari dengan gerakan yang sangat erotis. Yah, masalah erotis memang subjektif. Tapi, inilah pendapatku sendiri. Mbok ya, kalau menari kayak itu lihat-lihat kondisi, dong.

Kembali ke masalah yang tadi. Mungkin, aku harus lebih merenungkan alur pemikiranku. Toh, apa yang salah dengan musik dangdut. Yang salah itu, toh cuma masalah media dan penyampaian saja. Jadi, musik dangdut tidak layak menjadi kambing hitam atas segala kekesalanku.

Kalau dipikir-pikir, musik dangdut itu memang cukup menenangkan, loh.

Satu kosong buat adikku.

Desember 21, 2006

Satuan Internasional

Filed under: Kuliah — Septebrina Situmorang @ 5:48 am

     Suatu hari ada seorang wisatawan yang menanyakan berapa mil jarak dari suatu tempat ke kota yang hendak ia tuju. Namun, sang guide menjawab dalam satuan kilometer. Yang tinggal hanyalah rasa bingung karena turis itu tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dan sang pemandu merasa tidak puas karena tak dapat memuaskannya.

     Itu hanyalah sebuah gambaran akan membingungkannya dunia ini bila saja tidak ada satuan konversi yang berlaku secara universal. Coba bayangkan ada yang bertanya pada Anda tentang suhu daerah itu dalam satuan Fahrenheit seangkan yang Anda ketahui cuma satuan Celcius.  Atau Anda ditanya panjang benda dalam satuan inci padahal Anda hanya mengerti cm, m, dan yang berakhiran m lainnya. Dan masih banyak andai dan padahal   lainnya. Bayangkan betapa mumetnya otak kita memikirkannya.

     Untunglah kita tak perlu berbingung-ria karena itu. Para pendahulu kita telah lama menyadari pentingnya satuan konversi itu. Maka mereka mengadakan konvensi untuk memutuskan satuan-satuan yang diambil untuk mewakili semua satuan yang ada. Maka, setelah melalui pemikiran dan pertimbangan yang menyulitkan didapatlah suatu keputusan yang dinamai SI System of Units atau satuan internasional.

     Inilah mereka-mereka itu:

1.  Panjang diwakili oleh meter (m)

2.  Massa diwakili oleh kilogram (kg)

3.  Waktu diwakili oleh sekon (s)

4. Arus listrik diwakili oleh Ampere (A)

5.  Temperatur diwakili oleh Kelvin (K)

6.  Intensitas cahaya diwakili oleh Kandela (cd)

7.  Jumlah atom diwakili oleh mol.

     Jadi, itulah ukuran standar untuk perhitungan dan pengukuran. Jadi, jangan bingung lagi bila menjumpai kata-kata seperti inci, mil, Fahrenheit, atau bahkan satuan lain yang berbeda-beda untuk tiap bangsa. Konversikan saja ke satuan internasionalnya (ada di buku, kok). Mudah, bukan?

Numbers

Filed under: Kuliah — Septebrina Situmorang @ 5:16 am

1.   Penulisan Nomor

       Angka adalah unsur yang sangat penting buat seorang engineer. Namun, banyak masalah yang timbul terutama mengenai standar penulisan desimal.

   a. Tanda koma di Amerika menunjukkan ribuan dan tanda titik menunjukkan pecahan desimal. Hal yang berkebalikan terjadi di Eropa pada umumnya.

        Contoh: angka seribu satu koma satu

                        1,001.1  (AS) 

                        1.001,1  (Eropa pada umumnya dan juga di Asia)

     Untuk menghilangkan rasa bingung, yang diterima seebagai standar baku adalah penulisan menurut AS.

   b.  Untuk menunjukkan tanda desimal di antara -1 dan 1 maka angka 0 harus dituliskan.

         Contoh:  0.576 (nol  koma lima tujuh enam)

2.   Kesalahan Perhitungan

       Dalam melakukan perhitungan, para engineer sering melakukan kesalahan yang terutama disebabkan:

   a.  Kesalahan kalibrasi, artinya penunjuk awal standar perhitungan yang tidak tepat nol  sehingga hasil perhitungan bertambah kecil atau besar.

   b.  Kesalahan paralaks, artinya adanya unsur kesalahan optis atau pandangan mata dalam menentukan hasil perhitungan. Ini merupakan kesalahan teknis yang sering terjadi.

   c.  Kesalahan perhitungan hasil perhitungan yang berkisar dari ketidaktelitian perhitungan  sampai faktor pembulatan  hasil. 

         Contoh:  di mistar (yang umumnya nilai skala terkecilnya 0.1 cm) yang menunjukkan angka 7.58 sulit untuk dideteksi oleh mata. Kita hanya dapat memperkirakan bahwa hasilnya berkisar antara 7.5 dan 7.6 cm. Maka ketidakpastiannya adalah setengah dari NST tadi ditambah antara hasil perhitungan, yakni (7.55+0.05) cm.

         Dari situ bisa didapat persen ketidakpastian dan juga persen kesalahan. Semakin kecil persennya maka semakin besar keakuratannya dan sebaliknya.

3.   Angka Penting

       Merupakan angka yang akurat kebenarannya  dengan angka akhir umumnya dianggap mengandung kesalahan.

       Contoh:  0.0052  (2 angka penting)

                        52  (2 angka penting)

                        520  (2 atau 3 angka penting karena angka 0 bisa mengandung kesalahan pengukuran)

        Dalam pembuatan laporan, para engineer terkadang membulatkan angka hasil pengukuran sesuai dengan jumlah angka penting yang diperlukan. 

        Contoh: bila diperlukan 3 angka penting

                        5,738.365 menjadi 5,740.000

                        0.257543 menjadi 0.258

                        0.257479 menjadi 0.257

        Yang harus diperhatikan : pembulatan dilakukan hanya pada akhir perhitungan, artinya tidak dilakukan di tiap tahap perhitungan untuk mengurangi tingkat kesalahan yang lebih besar. Dengan kata lain, tingkat keakuratannya lebih terjamin.

      

                          

November 26, 2006

Rencana Tuhan yang Tak Terselami

Filed under: Christianity,Curhat — Septebrina Situmorang @ 12:21 pm

   Gue Salah Pilih Jurusan!!! 

   Ini beneran, bukan bo’ongan. Gue emang ngerasa banget kalau gue salah pilih jurusan. Habis, gue cuma tertarik di bidang kebumian and kesehatan (gak nyambung kali, ye!). Bahkan awalnya gue udah berencana pindah  ke jurusan teknik perminyakan tahun depan.

   Gue sekarang sadar kalau gue selama ini benar-benar cewek gengsian. Yang harus kepilih di ITB, lah, yang harus di jurusan favorit, lah. Eh, pas keterima and mulai kuliah, (eng ing eng) gue stress. Gue udah sering ngerasain yang namanya tiba-tiba sakit perut pas mau ujian sakit kepala buat mikirin soal kalkulus, fisika and kimia yang njlimet itu. Sekarang juga gue lagi stress mikirin tugas yang menumpuk.

   But, life must go on. Gue harus survive bagaimanapun kondisinya. Gue gak akan menyia-nyiakan keringat yang mengucur deras dari tubuh kedua ortu gue. Puji Tuhan, ternyata gue tidak benar-benar salah jurusan. Di STEI nyatanya ada jurusan elektro biomedika. Jadi dekat di bidang kesehatan, nih. Tinggal di guenya aja, sanggup gak menghadapi itu semua plus meyakinkan ortu gue kalau gue udah commit ke bidang itu.

   Sekarang, gue benar-benar bersyukur buat anugerah yang amat indah (tentunya juga karya keselamatan yang Bapa tawarkan buat gue) buat gue di kampus ITB ini. Gue bisa merasakan kalau gue benar-benar dibutuhin di sini. Gue bisa memberkati orang lain dengan cara-cara yang tak terduga dan tak terselami buat manusia seperti gue.

   Gue tahu, banyak di antara kita yang merasa salah jurusan di kuliah atau mungkin di sekolah. Tapi, peganglah satu hal ini. Tuhan punya rencana yang indah atas hidupku dan hidupmu.Ketika kau ditempatkan di satu bidang (tentunya yang baik), yakinlah kau sebenarnya sedang dibimbing-Nya buat memasuki satu rencana besar nan indah. Ketika kau merasa terbebani, serahkan itu semua kapada-Nya. Sebab, pemikiran dan rancangan Allah jauh berbeda dengan pemikiran dan rancangan manusia. Ketika kau melakukan itu, yakinlah bahwa akan tiba saatnya buatmu menjadi pemenang (tentunya benar-benar pemenang). Kita semua tentu ingin menjadi pemenang, bukan? Pasti dong!

September 20, 2006

About Engineer

Filed under: Kuliah — Septebrina Situmorang @ 7:13 am

Berikut kode etik seorang Engineer yang disepakati oleh IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers):

 

 

KODE ETIK IEEE

Kami, anggota IEEE, dalam pengenalan akan pentingnya teknologi kami dalam mempengaruhi kualitas kehidupan di seluruh dunia dan dalam penerimaan kewajiban kami pada profesi kami, anggota-anggotanya dan masyarakat yang kami layani, dengan ini kami menyatakan diri terikat pada perilaku etis dan profesional tertinggi dan setuju:

 

1.      Menerima tanggung jawab dalam pengambilan keputusan engineering yang taat asas pada keamanan, kesehatan, dan kesejahteraan publik, dan segera menyatakan secara terbuka faktor-faktor yang dapat membahayakan publik atau lingkungan;

2.      Menghindari konflik interest yang nyata atau yang terperkirakan sedapat mungkin, dan membukakannya pada para pihak yang terpengaruh ketika muncul;

3.      Akan jujur dan realistis dalam menyatakan klaim atau perkiraan menurut data yang tersedia;

4.      Menolak sogokan dalam segala bentuknya;

5.      Mengembangkan pemahaman teknologi, aplikasi yang sesuai, dan kemungkinan konsekuensinya;

6.      Menjaga dan mengembangkan kompetensi teknis dan mengambil tugas teknologi yang lain hanya bila memiliki kualifikasi melalui pelatihan atau pengalaman, atau setelah menyatakan secara terbuka keterbatasan relevansi kami;

7.      Mencari, menerima, dan menawarkan kritik, pekerjaan teknis, mengakui dan memperbaiki kesalahan, dan menghargai selayaknya kontribusi orang lain;

8.      Memperlakukan dengan adil semua orang tanpa bergantung pada faktor-faktor seperti ras, agama, jenis kelamin, keterbatasan fisik, umur dan asal kebangsaan;

9.      Berupaya menghindari kecelakaan pada orang lain, milik reputasi, atau pekerjaan dengan tindakan salah atau maksud jahat;

10.  Membantu rekan sejawat dan rekan sekerja dalam pengembangan profesi mereka dan mendukung mereka dalam mengikuti kode etik ini.

 

 

 

 


 

IEEE Code of Ethics

 

  We, the members of the IEEE, in recognition of the importance of our technologies in affecting the quality of life throughout the world, and in accepting a personal obligation to our profession, its members and the communities we serve, do hereby commit ourselves to the highest ethical and professional conduct and agree:

1.   to accept responsibility in making decisions, consistent with the safety, health and welfare of the public, and to disclose promptly factors that might endanger the public or the environment; 

2.   to avoid real or perceived conflicts of interest whenever possible, and to disclose them to affected parties when they do exist;

3.   to be honest and realistic in stating claims or estimates based on available data; 

4.   to reject bribery in all it forms; 

5.   to improve the understanding of technology, its appropriate applications, and potential concequences; 

6.   to maintain and improve our technical competence and to undertake our technological task for others only if qualified by training or experience, or after full disclosure of pertinent limitations; 

7.   to seek, accept, and offer honest criticism of technical work, to acknowledge and correct errors, and to credit properly the contributions of others; 

8.   to treat fairly all person regardless of such factors as race, religion, gender, disability, age, or national origin; 

9.   to avoid injuring others, their property, reputation or employment by false or malicious action;

10.  to assist colleagues and co-workers in their professional development and to support them in following this code of ethics.  whenever possible, and to disclose them to affected parties when they do exist;3. to be honest and realistic in stating claims or estimates based on available data; 4. to reject bribery in all its forms;5. to i0. to assist colleagues and co-workers in their professional development and to support them in following this


 

Walaupun saya belum menjadi anggota IEEE, tetapi sebagai calon Engineer harus mengakui kode etik Engineer.

(Segala hal yang bersifat mendesak di kemudian hari yang mengakibatkan terjadinya penyimpangan terhadap kode etik di atas akan dijadikan pertimbangan atas pertanggungjawaban terhadap kode etik yang dimaksud.)

Halaman Berikutnya »

Theme: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.