Bandung, INA
10.45 AM
@ Lab. IF Dasar I ITB
Hari ini aku merasa sangat sedih. Oppungku (nenek) meninggal sudah karena penyakit ginjal. Masih kuingat, aku datang ke Bandung untuk berkuliah dengan membawa harapan membahagiakan keluargaku, termasuk nenekku yang sangat banyak berkorban untuk keluarga kami, baik materi, moril, dan perasaan.
Masih kuingat, kira-kira sebulan yang lalu, aku menelepon Oppungku yang sedang sakit. Aku berjanji pulang ke Siantar bulan Juni ini. Tak lupa, aku mengingatkan nenek untuk menjaga kesehatan dan mendoakan aku. Aku janji pulang ke kampung untuk menjenguk Oppung kembali. Tapi, janji itu tinggallah janji dan waktu takkan kembali sama. Oppungku meninggal sudah.
Masih kuingat saat sehari sebelum berangkat ke Bandung, aku pergi ke kampung untuk pamit pada Oppung. Masih kuingat senyum pasrah Oppung yang akan melepasku pergi. Cucu sulungnya akan pergi beribu kilometer jauhnya darinya.
Masih kuingat pelukannya di saat aku tidur, senyumnya di saat aku nakal maupun sedih, perhatiannya di saat aku sakit, kepeduliaannya terhadap tumbuh kembangku, kebanggaannya atas tiap prestasi yang kutorehkan, simpatinya atas tiap kegagalanku, nasihatnya yang sangat lembut. Masih kuingat itu semua.
Di log hatiku tertulis: “Telah berakhir kehidupan seorang anak yang sangat menghormati orangtuanya, seorang saudara yang sangat menghargai saudara-saudaranya, seorang istri yang sepadan buat suaminya, seorang ibu yang sangat peduli akan keluarganya, seorang oppung (nenek) yang sangat memperhatikan perkembangan, mengasihi dan membanggakan cucu-cucunya, seorang teman yang selalu berada dalam kondisi apapun. Tapi yang pasti, semua kenangan itu takkan berakhir di batu nisan. Namun, akan terus berakar, bertumbuh dan senantiasa dipelihara, disiram, dipupuk oleh orang-orang yang mengenangnya. Semua pengorbanannya akan dikenang hingga akhir zaman oleh orang-orang yang mengenalnya. Semua perbuatan, kebaikan, kesetiaannya akan selalu dikenang dan diteladani. Hidupnya di dunia ini takkan sia-sia.”
Teruntuk Oppung….
Terima kasih untuk setiap
Kebaikan
Kesetian
Kasih sayang
Damai
Ketenangan
Perjuangan
Semangat
Nasihat
Kan kuingat semuanya…
Yang kau berikan untukku
Untuk ayah mamaku
Untuk adik-adikku
Untuk keluarga besar kita
Perjuanganmu di bumi memang sudah berakhir
Sudah waktumu untuk beristirahat dengan tenang
Namun, kenangan yang kau tinggalkan akan tetap hidup
Di log hati kami masing-masing
Maaf…
Aku tidak menemanimu di kala kau sakit
Maaf…
Aku belum bisa menunjukkan keberhasilanku yang doakan
Maaf…
Aku belum sempat menemuimu
Namun…
Aku tahu bahwa kebanggaanmu atasku
Sudah mampu menjawab semuanya…
Aku akan tetap berjuang Oppungku
Untuk bagianmu juga
Untuk keluarga besar kita
Untuk setiap teladan yang kau berikan buatku
Terima kasih sudah mau menjadi Oppungku yang luar biasa
Terima kasih sudah membesarkanku
Terima kasih memahami kenakalanku di masa tumbuh kembangku
Terima kasih memahami cara mendidikku
Terima kasih untuk semuanya…
Aku menyayangimu Oppungku…
Pernahkah aku mengatakannya secara langsung?
Pergilah Kasih….
Kita ‘kan jumpa
Walau tidak di sini….
Nanti di Surga….
Selamat jalan oppungku tersayang
Tunggu sampai kita bertemu di surga
Bersama Bapa di Surga…
Kita semua akan berkumpul kembali…
Amin (Pasti)….
By: Septebrina Situmorang
(My Master on High)